Universitas Udayana: Potensi, Tantangan dan Masa Depan

By
Advertisement
[Moving Forward] Universitas Udayana: Potensi, Tantangan dan Masa Depan InCircle Journal of Research & Development, #1 issue, December 2015 Universitas Udayana resmi berdiri tanggal 17 Agustus 1962 dan merupakan perguruan tinggi negeri tertua di Bali. Sebenarnya, sejak tanggal 29 September 1958, di Bali sudah berdiri Fakultas Sastra Udayana sebagai cabang Universitas Airlangga Surabaya. Fakultas Sastra Udayana inilah merupakan cikal bakal lahirnya Universitas Udayana. Selaras dengan perkembangannya, secara berturut-turut di Universitas Udayana kemudian berdiri Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat/FHPM (1964), Fakultas Teknik/FT (1965), dan pada tahun 1967 berdiri Fakultas Pertanian (FP) dan Fakultas Ekonomi (FE). Pada tahun 1994 ditetapkan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), tahun 1997 ditetapkan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), dan pada tahun 2005 ditetapkan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP). Pada tahun 2008 ditetapkan Fakultas Pariwisata (FPar), tahun 2009 ditetapkan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), dan pada tahun 2011 ditetapkan Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP). Dengan demikian, sampai saat ini Universitas Udayana memiliki 13 fakultas[1]. Melihat kemampuan sumber daya manusia maupun fasilitas yang ada di Universitas Udayana, dan dari hasil studi kelayakan serta memperhatikan kebutuhan masyarakat, Universitas Udayana dalam perkembangan terbarunya membuka beberapa program studi. Demikian pula dengan telah siap dan adanya dukungan dari stakeholders, Universitas Udayana juga telah membuka Program Pascasarjana, serta program studi non-reguler dalam bentuk D1, D2, D3 dan D4. Sampai 2014, Universitas Udayana telah memiliki 8 program studi S0, 46 program studi S1, 25 program studi S2, 9 program studi S3, 5 program studi profesi, dan 13 program spesialis. Dalam Rencana Strategis Universitas Udayana tahun 2015 sampai 2019 ada beberapa sasaran, tujuan dan arah kebijakan pengembangan Universitas Udayana yaitu otonomi dan kesehatan organisasi tahun 2016, tercapainya akreditasi unggul tahun 2017, dan salah satu yang terpenting adalah tercapainya World Class University (WCU) tahun 2027. Dalam mencapai rencana startegisnya banyak sekali perbaikan yang harus dilaksanakan Universitas Udayana, diperlukan langkah secara bertahap, konsisten, berkelanjutan dan menyeluruh, diperlukan kerjasama dari semua lini baik mahasiswa dosen maupun staff. [2] Jika dilihat secara internal sebenarnya Universitas Udayana memiliki banyak keunggulan mulai dari lokasinya yang terletak di Pulau Bali sebagai salah satu destinasi pariwisata Dunia, dengan jumlah mahasiswa tahun 2014 sebanyak 22.854 orang, meliputi jenjang diploma (S0) 877 orang, jenjang sarjana (S1) 18.041 orang, Program Spesialis 721 orang, program pascasarjana (S2) 2.543 orang dan (S3) 622 orang. Dan dosen sebanyak 1.567 orang, dengan kualifikasi pendidikan terakhir S1 5,87%, S2 64,96%, S3 24,25%, Spesialis 4,91%. Jumlah guru besar sebanyak 159 orang (10.15%). 13 fakultas, mulai dari diploma, sarjana hingga pascasarjana[3]. Memiliki kerjasama-kerjasama dengan berbagai Universitas dalam dan luar negeri, baik di bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat salah satunya terbukti dengan terpilihnya ini untuk Udayana menjadi tuan rumah EHEF (European Higher Education Fair) 2015 pertama di Bali pada Kamis, 5 November 2015[4] dan banyak kerjasama-kerjasama lain dengan lembaga-lembaga luar dalam berbagai bidang. Namun untuk mencapai tujuanya sebagai World Class University masih banyak kelemahan yang harus di atasi Universitas Udayana, misalnya dari bidang pendidikan yaitu hanya 22 % program studi terakreditasi A, 59% terakreditasi B, masih ada 5% terakreditasi C, dan 14% yang akreditasinya kadaluwarsa[5]. Masih rendahnya mutu penyelenggaraan, produktifitas di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat yang juga disebabkan oleh Terbatasnya dana. Komunikasi/diseminasi dan publikasi hasil-hasil penelitian melalui seminar juga publikasi ilmiah juga masih kurang khususnya di tingkat internasional, yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya kemampuan dan minat meneliti serta rendahnya budaya ilmiah. Dari segi sarana dan prasarana, prasarana fisik yang belum memadai baik itu dari gedung, laboratorium dan perpustakaan. Sistem informasi mahasiswa juga belum terkelola dengan baik yang dalam hal ini kerap kali menyulitkan mahasiswa dalam proses perkuliahan. Selain memang sarana dan prasarana yang memang belum memadai, rendahnya pemahaman civitas akademika tentang tata cara penggunaan dan pengelolaan sarana, prasarana juga masih sangat perlu ditingkatkan. Selain kondisi Internal Universitas Udayana, arus globalisasi yang berkembang pesat juga menjadi tantangan tersendiri. Peningkatan pasar dunia yang semakin kompetitif, munculnya zona-zona perdagangan bebas, tumbuhnya perusahan-perusahan multinasional dan aliran informasi, telah mengakibatkan tumbuhnya ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy) yang membutuhkan dukungan orang-orang yang mampu bekerja secara radikal, etika dan lingkungan berbeda, dan mempunyai kualifikasi dapat diterima secara luas. Secara jelas bahwa lulusan perguruan tinggi harus mampu memenuhi kriteria-kriteria tersebut untuk mampu bersaing di pasar kerja global. Di tingkat ASEAN, dengan diberlakukannya Asean Economic Community pada tahun 2015, menuntut lulusan Universitas Udayana memenuhi kualifikasi dan menjadi lebih kompetitif untuk memenangkan persaingan di pasar kerja. Meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan, civitas akademika Universitas Udayana diharapkan mampu memanfaatkan potensi-potensinya guna mencapai sasaran menjadi World Class University lewat strategi dan arah kebijakan yang nantinya bisa diterapkan oleh civitas akademika menuju Udayana sebagai World Class University. Salah satu peluang yang saat ini bisa dimanfaatkan adalah keberadaan Universitas Udayana di Bali harus dimanfaatkan secara optimal medication vytorin. Asean Economic Comunity yang akan berlangsung mulai tahun 2015 juga bisa menjadi peluang yang sangat besar bagi Universitas Udayana untuk menciptakan lulusan-lusan yang nantinya dapat bersaing dalam pasar tenagar kerja ASEAN dengan peningkatan standar universitas seperti akreditasi nasional maupun internasional. [1]Universitas Udayana, Rencana Strategis Universitas Udayana tahun 2015-2019, Hal. 7 [2] Ibid, hal. 2 [3] Ibid, hal. 9 [4] Official website of the European Union, 2015, European Higher Education Fair, diakses pada 7 November 2015, URL : http://eeas.europa.eu/delegations/indonesia/more_info/ehef/ehef_en.htm [5] Universitas Udayana, Op.cit., hal. 10

0 comments:

Post a Comment